Sabtu, 16 Februari 2019

Usia Yang Cocok Untuk Mulai Membeli Rumah

Usia Yang Cocok Untuk Mulai Membeli Rumah

"Gaya hidup seseorang bisa berubah 180 derajat, ketika Ia sudah melakukan cicilan rumah," begitu ungkapan Lisa, seorang karyawan swasta yang saat ini tengah berjuang melunasi rumah idamannya.

Hal ini pun dibenarkan oleh CEO Mitra Rencana Edukasi sekaligus Perencana Keuangan, Mike Rini Sutikno.

Ia memaparkan pendapatnya mengenai usia yang pas untuk membeli rumah melalui fasilitas KPR (Kredit Pemilikan Rumah).

"Usia produktif adalah yang paling ideal. Kenapa? Karena di usia ini, Anda bisa memiliki tabungan jangka panjang yang nantinya akan menghasilkan nilai jual investasi yang lebih tinggi. Ketimbang Anda memulainya di usia yang sudah terlampau matang," tutur dia.

Usia produktif adalah usia dimana seseorang masih memiliki banyak tenaga, mampu bekerja, dan menghasilkan sesuatu. Biasanya usia produktif berada di rentang 20-30 tahun. Hal ini senada, jika Anda mengajukan angsuran KPR kepada bank. Karena bank mematok usia minimum yakni 21 tahun atau sudah menikah.

Lain halnya jika Anda sudah berusia 40 tahun dan belum memiliki rumah. Kebutuhan yang semakin besar mulai dari biaya sekolah anak, fisik yang melemah sehingga membutuhkan uang untuk pengobatan, hingga biaya tak terduga lainnya seringkali menjadi penyebab sulitnya seseorang mengumpulkan uang.

Namun Mike tetap menegaskan, rumah itu wajib dimiliki baik oleh usia produktif maupun usia matang, laki-laki ataupun perempuan.

"Jadi, saat Anda punya penghasilan pertama, sebaiknya fokuskan bahwa gaji Anda harus ditabung untuk membeli rumah. Jangan boros membeli hal-hal yang bersifat sekunder!," imbuhnya.

Jangan lebih dari sepertiga gaji
Di usia yang masih muda, penghasilan seseorang biasanya belum memadai untuk melakukan cicilan rumah seharga Rp500 jutaan keatas. Oleh karena itu, pilihlah lokasi hunian yang masih bisa dijangkau dari pusat beraktivitas namun menawarkan harga yang mumpuni.

Mengingat DP rumah yang biasanya akan menguras dana besar, maka mulailah untuk menyisihkan penghasilan ke bentuk investasi emas. "Ambil yang jangka waktu cicilannya panjang, misal 2 atau 3 tahun agar hasilnya cukup untuk DP rumah impian," ungkap dia.

Selain itu, Mike menyarankan agar mencari rumah yang cicilan KPR-nya sesuai dengan kemampuan. "Cari KPR berbunga ringan, dan angsuran per bulannya jangan melampaui batas dari sepertiga gaji Anda," tegas dia.

Sebelum membeli rumah, sebaiknya Anda mengetahui harga, jenis, dan tipe rumah yang akan dibeli. Artinya, Anda dituntut untuk membeli rumah sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah biaya administrasi.

Jangan sampai Anda menunda biaya pelunasan administrasi KPR yang diajukan dalam waktu lama. Sebab, semakin cepat biaya administrasi dilunasi, maka beban KPR akan semakin ringan.

Jika penghasilan dirasa masih belum mampu untuk membeli rumah di lokasi idaman, maka alternatif lainnya adalah apartemen. Meski luas areanya sangat minimalis, namun unit di apartemen biasanya dibanderol dengan harga yang lebih terjangkau dibanding rumah.

Nah, sambil Anda menghuni apartemen, jangan lupa sisihkan 20% penghasilan per bulan untuk tabungan membeli rumah. Jika Anda konsisten hingga 10 tahun lamanya, maka rumah impian sudah ada di depan mata. Selamat menabung!

Selasa, 12 Februari 2019

Menabung DP Rumah Lewat Reksadana Pendapatan Tetap

Menabung DP Rumah Lewat Reksadana Pendapatan Tetap

Hampir semua orang mendambakan tinggal di lokasi strategis apalagi berada di tengah kota. Sayangnya keterbatasan kemampuan finansial membuat impian tersebut harus sedikit diredam.

Berdasarkan kanal perumahan baru Rumah.com, harga rumah baru dengan luas bangunan >70M2 di area Tangerang Selatan rata-rata dibandrol diatas Rp1 Miliar. Sedangkan di wilayah Jakarta Selatan atau tepatnya di Jagakarsa, harga terendah untuk rumah tipe tersebut berkisar Rp1,5 Miliar.

Maka kalau diperhitungkan, total uang muka yang perlu dipersiapkan sekitar Rp150 juta. Angka itu diasumsikan apabila harga rumahnya Rp1 miliar. Baca juga: Panduan Lengkap Beli Rumah Pertama

Banyak strategi yang bisa diadaptasi untuk tujuan mengumpulkan uang muka rumah. Salah satunya dengan berinvestasi melalui aplikasi Ajaib.

Ajaib sebagai aplikasi smart online investment memungkinkan orang berinvestasi dengan percaya diri melalui portofolio yang terdiversifikasi. Misi Ajaib adalah membuka akses selebar-lebarnya ke investasi yang lebih dipersonalisasi lagi bagi masyarakat Indonesia. Mengingat hanya 0,4% dari penduduk Indonesia yang sudah berinvestasi.

Ajaib adalah startup yang berbasis di Jakarta, dengan pendanaan 2,1 juta dolar (USD) dari Y Combinator, SoftBank Ventures dan mantan partner Sequoia. Perusahaan yang lahir dari inkubator startup Y Combinator (YC) ini resmi luncur pada awal Januari 2019.

CEO dan co-founder Ajaib, Anderson Sumarli mengatakan, “Saya adalah salah satu dari orang-orang yang ingin berinvestasi tetapi tidak memiliki waktu untuk mengikuti perubahan pasar. Hal ini dialami juga oleh teman-teman saya, sehingga Ajaib adalah solusi bagi kita semua.”

Ajaib memberikan saran dan memungkinkan orang berinvestasi menggunakan aplikasi mobil dalam 4 langkah mudah. Diantaranya beberapa pertanyaan untuk mendapatkan profil investor berdasarkan data algoritma dan saran para ahli, pportofolio pribadi berdasarkan profil pengguna.

Ajaib pun menerapkan teori Mean Variance Optimization yang mendapatkan Nobel Prize untuk membantu opsi penggunanya.

Untuk membuat akun, diperlukan waktu hanya 1 menit tanpa dokumen fisik, dan penggunanya sudah bisa memantau investasi secara otomatis.

“Keunggulan dari Ajaib adalah kami menggabungkan teknologi dan keahlian manusia,” imbuh Anderson yang merupakan mantan konsultan Boston Consulting Group (BCG) sekaligus mantan ahli data di IBM.

Ajaib tidak mengenakan biaya atas servisnya, baik untuk pembuatan akun, pembelian, penjualan, maupun biaya switching. Ajaib juga telah memiliki lisensi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan bermitra dengan sejumlah bank serta fund managers berpengalaman dalam investasi.

Ajaib memiliki ambisi untuk mencakup pasar Asia Tenggara dengan mengincar 650 juta orang, di mana masih begitu banyak masyarakat yang kekurangan akses ke layanan konvensional.

“Inklusi keuangan bukan hanya orang yang memiliki rekening bank saja. Ini meluas ke orang-orang yang memiliki investasi. Dan salah satu tujuan inklusi keuangan adalah untuk membuat orang menabung dan berinvestasi. Artinya, ada ekspansi geografis di masa depan,” kata Yada Piyajomkwan selaku Chief Marketing Officer Ajaib.

“Visi kami adalah lingkup regional. Dan kami pikir masalah ini cukup umum di seluruh wilayah. Tetapi dalam jangka pendek dan menengah, kami akan fokus pada Indonesia terlebih dahulu, ” tukas Yada yang meraih gelar MBA dari Stanford University (Fulbright Scholar) dan mantan konsultan McKinsey.

Simulasi Reksadana Pendapatan Tetap
Reksadana, misalnya. Instrumen ini dianggap sebagai investasi menarik yang kemudian bisa dialokasikan sebagai DP rumah impian. Pasalnya, reksadana memiliki sejumlah manfaat seperti biaya rendah.

Dikarenakan reksadana merupakan kumpulan dana dari banyak pemodal dan lalu dikelola secara profesional, maka sejalan dengan besarnya kemampuan untuk melakukan investasi tersebut akan menghasilkan pula efisiensi biaya transaksi.

Biaya transaksi akan menjadi lebih rendah dibandingkan apabila investor individu melakukan transaksi sendiri di bursa.

“Salah satu kelebihan reksadana adalah terjangkau sehingga dengan dana ratusan ribu rupiah, Anda sudah dapat berinvestasi. Jangan lupa mempelajari detil skema produk investasi yang dipilih dan penting untuk diingat, bahwa masing-masing produk investasi memliki kelebihan dan kekurangan atau resiko tersendiri,” ujar Yasmeen Danu, perencana keuangan dari QM Financial.

Ada banyak jenis bagi Anda yang tertarik melipatgandakan uangnya lewat reksadana. Mulai dari reksadana saham, campuran, pendapatan tetap, pasar uang, serta index. Namun yang cukup minim risikonya adalah reksadana pendapatan tetap.

Untuk memudahkan Anda membayangkan keuntungan investasi dari reksadana pendapatan tetap, berikut contoh simulasinya.

Di bulan Januari 2016, Mr. A membeli reksadana pendapatan tetap di firma MDPT senilai Rp10 Juta. Nilai Aktiva Bersih (NAB) MDPT hari itu adalah Rp3.000. Jika dihitung, maka unit penyertaan yang dimiliki MR. A sebesar;

Rp10.000.000 = Rp3.333.333 unit penyertaan

(Jika Anda merupakan pembeli hunian pertama dan masih ragu dengan rumah tinggal incaran Anda, tanyakan apa saja informasi yang dibutuhkan melalui Tanya Agen)

Nah, di akhir Februari 2016, Mr. A berniat menjual kembali seluruh reksadananya. Diketahui, NAB MDPT di tanggal itu mengalami sedikit kenaikan yakni Rp3.150. Maka total investasi yang diraih Mr. A adalah;

Rp3.333.333 X Rp3.150 = Rp10.499.998

Oleh karena itu, Mr. A berhasil memperoleh keuntungan dengan perhitungan;

Modal awal reksadana Rp10 Juta
Investasi yang didapat saat menjual reksa dana Rp10.499.998
Total keuntungan; Rp10.499.998 – Rp10.000.000 = Rp499.998
Bayangkan, jika dalam satu bulan bisa dibukukan keuntungan Rp500 Ribu, berapa rata-rata keseluruhan keuntungan dalam dua tahun? Rp11.999.952 Juta jawabannya.

Dengan jumlah dana sebesar itu, Anda bisa saja menambal kekurangan pelunasan uang DP rumah yang berlokasi di wilayah pinggir Jakarta. Seperti Depok, Tangerang, Bekasi, maupun Bogor.